|
“SSDA!”…begitu celetuk rekan rapat SUWIDYO secara tiba-tiba sambil melanjutkan arti singkatan yang membuat suasana rapat menjadi penuh gumam tawa.
Ceritanya, siang itu kami mengadakan rapat seleksi penerimaan siswa baru. Peserta rapat terdiri dari kepala sekolah dan para wakil dari TK, SD, SMP, kepala bagian umum dan kepala bagian keuangan sekretariat dan juga ketua umum dan sekretaris yayasan sebagai mitra saya. Saat itu kami terlibat sebuah diskusi mengenai pentingnya memetakan kualitas input siswa di SMP. Kami sepakat bahwa selain mereka yang unggul di akademik, kami juga perlu memperhatikan mereka yang ‘tidak menonjol’. Karena menurut kami, kalau mendidik anak pintar kan mudah…tapi dengan prinsip pendidikan berjenjang, SMP kami menjadi merasa bertanggung jawab apabila menolak lulusan SD dari lembaga sendiri. Padahal…secara ‘angka’, tadinya yang harus masuk ke kotak cadangan ada beberapa nama. Maka, mulailah kami membahas satu persatu dengan tetap pada prinsip pemetaan.
Menarik sekali, ternyata kami mendapatkan bahwa nilai akademik dan social skill yang di uji memiliki korelasi terhadap hasil psykotest. Dan yang lebih menarik lagi, kami dapat memetakan antara mereka yang unggul dalam penggunaan otak kanan dan otak kiri.  Akhirnya tiba saat memutuskan dimana kami berkesimpulan :
- Akan memberi peluang bagi mereka yang punya kelebihan non akademik, sekian persen
- Akan memberi peluang bagi mereka yang “justru” mejadi tantangan para pendidik karena secara akademik perlu di tingkatkan dan secara sosial perlu di bimbing, sekian persen
- Sebagai sekolah Islam, kami justru memprioritaskan mereka yang memiliki nilai uji agama yang perlu dibantu (‘case-basis’)
Intinya kami sepakat bahwa kami akan mengedepankan ‘multi intelejensia’ dan ‘pembangunan karakter’.
Sudah mantap dengan putusan, tiba-tiba ada yang mengingatkan bahwa sebentar lagi kami akan melalui proses akreditasi sebagai Sekolah Standart Nasional Mandiri yang standart penilaiannya masih sangat-sangat konvensional yang tetap saja tergantung pada nilai rata-rata hasil UAN selain fasilitas yang memadai. Kawan kami khawatir, apabila kami berikan quota berdasarkan multi intelejensia, takutnya standart nilai rata-rata siswa yang tinggi seperti sekarang, tidak tercapai lagi.
Komentar teman yang sekedar mengingatkan itu justru makin menguatkan VISI kami. “ TIDAK APA-APA….kalau DIKNAS mencabut SSN kita….kita PeDe saja! Lha wong kita mau mendidik kok!”…..begitu kata salah seorang.
Pak Suwidyo : “ kita buat standart sendiri saja! SSDA !!!! Sekolah Standart Dunia dan Akherat!” hahaha….amien……amien……
Saya hanya menutup pembicaraan dengan : “ Percayalah bapak ibu…..anak-anak kita yang belum cemerlang dalam segi akademik, pasti 20 tahun mendatang akan menjadi pemimpin-pemimpin handal di dunianya masing-masing! Guaranteee!!!!” ….dengan izin Allah tentunya.
Akhirnya jam 17.00 rapat berakhir, tapi kami harus menunggu hingga magrib sampai akhirnya petugas Tata Usaha tergopoh-gopoh membawa surat pengumuman yang harus ditanda tangani untuk dipasang di papan besok pagi. GOOD LUCK anak-anakku!!!
(Thank you for ‘the energy’ who inspired me today!) |