|
Jl. Cipete III no. 3 Cipete, Jakarta Selatan 12410 |
| KESULTANAN PALEMBANG |
|
|
|
|
SEBAGAI PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN KESUSASTERAAN Pada tahun 1662 di Palembang beridiri sebuah kesultanan yang sangat terkenal dan disegani baik oleh kawan maupun lawan, yaitu Kesultanan Palembang Dar as-Salam. Kesultanan itu didirikan oleh Pangeran Hindi (Endi), anak Pangeran Jamaluddin yang bergelar Sabokingking. Sekalipun kesultanan ini secara resmi baru berdiri pada tahun tersebut di atas, namun prosesnya telah dimulai sejak tahun 1542 ketika Ki Gedeng Suro Tuo menginjakkan kakinya dan membuat kekuasaan Islam pra-kesultanan di Palembang. Kekuasaan kesultanan ini berlangsung relatif lama dan baru berakhir setelah Belanda menangkap Sultan Ahmad Najamuddin II pada tahun 1824 M.
Dalam rentang waktu 283 tahun sejak berdirinya kesultanan sampai terjadinya kebiadaban Belanda yang ditandai dengan penangkapan terhadap Sultan Ahmad Najmuddin II (1824), banyak sudah hasil karya yang dipersembahkan oleh kesultanan ini kepada generasi berikutnya dalam segala bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya. Agama, sastra dan kebudayaan menjadi pilar penyangga kejayaannya. Karya rancang-bangun islami, seperti istana, masjid dan surau berdiri megah dan masih dapat disaksikan hingga kini. Begitupun buku-buku catatan harian kesultanan dan kitab-kitab hasil goresan tangan kalam kaligrafer muslim abad itu masih dapat dibaca dan disimak hingga kini. Semua itu menjadi saksi bisu betapa perhatiannya para sultan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberantasan kejahilan rakyatnya. Sungguh amat mulia titah sultan. Tibalah saat nahas dan petaka ketika Belanda datang pada perempat awal abad ke-18 ke Palembang. Semangat imarat dan rakyat bangkit menentang durjana itu dan tidak pernah pudar untuk menegakkan panji-panji kesultanan yang koyak-koyak di kekelaman masa penjajahan. Dalam upaya menguak sejarah Palembang kala silam, sejak tahun 1992 berbagai penelitian purbakala telah dilakukan di wilayah yang diyakini pernah menjadi kekuasaan kesultanan Palembang, baik oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta maupun oleh Balai Arkeologi Palembang. Dalam penelitian itu telah ditemukan sejumlah peninggalan kuna hasil olah budi manusia masa silam, di antaranya yang cukup menarik ialah naskah-naskah kuna. Kata naskah berakar dari bahasa Arab "nuskhah" yang berarti tulisan tangan. Dalam bahasa Inggris naskah disebut "manuscript" dan dalam bahasa Belanda disebut "handscrift" yang mempunyai arti yang sama, yaitu tulisan tangan. Jadi semua hasil tulisan tangan manusia dapat disebut naskah. Menurut istilah naskah ialah semua peninggalan tertulis yang ditulis dengan tangan oleh manusia masa lalu, baik pada kertas, lontar, kulit kayu maupun rotan. Naskah-naskah kuna itu memuat berbagai ilmu dan pengetahuan, misalnya filsafat, sejarah, ajaran keagamaan, syair, hikayat, cerita-cerita rakyat dsb. Naskah-naskah itu dapat menggambarkan keadaan sosial masyarakat pada masa lampau. Naskah-naskah itu digunakan sebagai sarana kegiatan belajar-mengajar oleh para guru dan santri yang peduli terhadap ilmu dan pengetahuan. Hanya dengan belajar itulah Pelembang dapat melestarikan kekuasaannya dan harum semerbak harkatnya di manca negara. Dengan aktivitas itu Palembang dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, sastra dan budaya di masa itu. Kepedulian para sultan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sastra dan budaya itu dibuktikan dengan upaya mereka membangun sebuah perpustakaan yang lingkupnya kesultanan. Upaya itu dirintis pertama kali oleh Sultan Ahmad Najamuddin bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama dan disempurnakan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II di masa-masa akhir kesultanan itu. Di perpustakaan itulah terkumpul berbagai kitab dan buku bermutu demi memenuhi kebutuhan informasi rakyatnya. Kala itu banyak orang yang menimba ilmu di Palembang.
Naskah-naskah itu kini ada yang disimpan oleh perorangan yang mengaku sebagai pewaris naskah dari nenek moyangnya, seperti di daerah Seberang Ulu Palembang dan di berbagai museum, baik dalam maupun luar negeri, seperti Museum Balaputra Dewa, Palembang, Perpustakaan Nasional, Jakarta, Great Britain, Inggris, dan Leiden, Belanda. Naskah-naskah tersebut terdiri atas beberapa judul dalam berbagai bahasan ilmu dan pengetahuan. Kebanyakan naskah-naskah itu ditulis dengan huruf dan bahasa Arab. Beberapa di antaranya ada yang berhuruf dan berbahasa Jawa. Naskah yang dapat dikenali antara lain berjudul: Hidayat al-Habib fi al-Targib, Kitab al-Hikam, ad-Durr al-Nazim, Asrar al-Huruf, ad-Durr an-Nadim, Muhammad ibn Usamah, usul as-Sanusiyyah, Sabil al-Hidayah, Dewa Mendu, Wayang Gedog, Rama Kawi, dll. Naskah-naskah di atas dapat diketahui masa keberadaannya, di samping karena di dalamnya dicantumkan nama pemiliknya, yaitu Sultan Palembang juga dicantumkan kolophon (pentarikhan naskah) yang biasanya dicantumkan di bagian akhir naskah. Kadang juga ditemukan water mark (cak kertas) yang dapat menunjukkan pabrik produser kertas dan kapan waktu pembuatannya. Naskah paling tua yang ditemukan di Palembang adalah sezaman dengan Sultan Ahmad Najmuddin bin Sultan Mahmud Badaruddin Jayowikramo (berkuasa 1758 –1776) berjudul Khawas al-Qur'an al-Adim. Semakin menarik apabila kita naik ketek menyusuri Sungai Musi sambil menikmati riak gelombangnya dan singgah di rumah Bapak Alwi Assegaf, Lorong BBC, 12 Ulu, Palembang, atau di rumah al-marhum Bapak Alwi bin Ahmad bin Muhammad Bahsin, Lorong Persatuan, 13 Ulu, Palembang dan atau di rumah Bapak Ali bin Hasan Assegaf, Kompleks Assegaf, 16 Ilu, Palembang yang menyimpan naskah-naskah kuna tinggalan masa kesultanan. Mereka dengan senang dan tulus hati mau menerima siapa saja tamunya dan memperlihatkan warisan tulis, naskah-naskah itu kepada yang hendak melihatnya. Dalam lembaran awal naskah-naskah yang mereka simpan itu ditemukan tulisan yang dapat menunjukkan bahwa kitab itu milik Sultan Mahmud Badaruddin II, seperti kitab hadits Sahih Bukhari, Sirat al Mustakim (karangan Ar-Raniri), dan Kitab Mir'at at-Tullab. Kitab al-Qaul al-Hawi li ahl Balad Betawi, kitab Safinah al-Najah, Syair ilm Nahw dll. Yang sangat menarik adalah disimpannya naskah kitab tasawwuf yang dikarang oleh Ibn Arabi yang disimpan oleh Bapak Ali bin Hasan Assegaf, 16 Ulu Palembang. Itu makanya dahulu santer dibicarakan bahwa di Palembang tempo dulu, pernah dikembangkan ajaran Wihdat al-Wujud (manunggaling kawulo gusti). Ajaran itu kemudian ditentang oleh ulama Palembang, di antaranya adalah Abdussamad Al-Jawi Al-Palimbani yang hidup semasa dengan Sultan Mahmud Badaruddin I dan Ahmad Najmuddin bin Sultan Mahmud Badaruddin I. Ulama terakhir inilah yang hasil karyanya terkenal bukan saja di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara, India, Mesir, Arabia dan negara-negara Islam lainnya. Belum lagi apabila kita masuk Masjid Agung Palembang yang terkenal unik itu. Di dalamnya disimpan naskah-naskah kuna juga. Apabila mata kita terpaut ke arah dinding sebelah barat dan selatan maka kita akan melihat naskah yang dibingkai indah. Naskah itu adalah jadwal waktu salat, jadwal bacaan surat dalam salat lima waktu dan naskah perpaduan antar keduanya yang digunakan oleh jamaah masjid. Naskah-naskah tersebut merupakan hasil karya Haji Masagus Abdul Hamid bin Abdurrahman, ulama Palembang abad ke-19 M. Naskah-naskah itulah yang dapat menuntun kita mengetahui bahwa Palembang memang telah lama menjadi pusat ilmu pengetahuan, agama dan sastra. Kenyataan itu telah membangkitkan semangat cinta ilmu dan budaya, di samping fanatisme peribadatan masyarakat Palembang yang sampai kini masih sangat terasa.
Oleh Mujib*
*Penulis adalah Peneliti Arkeologi, aktif di Yayasan Pelita Budaya, Palembang, tinggal di Jakarta. |
| HOME |
| KEMASJIDAN & KEMASYARAKATAN |
| PELAYANAN |
| PEMBINAAN |
| BERITA |
| « | < | January 2012 | > | » |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| « | < | February 2012 | > | » |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 1 | 2 | 3 |
| « | < | March 2012 | > | » |
| S | M | T | W | T | F | S |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 1 | 2 | 3 |
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |